Kamis, 25 Februari 2016

Yang Tak Tersampaikan

Aku tak berdaya dengan kisah ini
Seperti angin...
Hanya mampu membelaimu di tanah lapang,
di bawah pepohonan nan rindang..
Yaa bukan sembarang tempat memang

Tapi bila kau merasakan kesejukan di tiap hembusannya,
perlu kau ketahui sayang
Ia membawa luluhan permata bening yang jatuh dari pelupuk
Mengukir sungai yang jatuh ke pipi
Mengering dan menguap terbawa angin itu!

Rindu nya pun ia titipkan padanya
Harapannya, bahagianya, sedihnya pun jua
Namun semuanya selalu saja tersirat
Melekat tuntas menyentuh mata dan kulitmu
Tapi tak tersesap dan sampai pada jantung hati pemiliknya

Aku seperti kuli yang berharap naik pangkat
Mondar-mandir memikul rasa seorang diri
Harapan dan tanda tanya yang aku karungi dengan karung goni
Yang tak pernah habis walau ku tambang setiap hari
Sampai berpeluh-peluh

Dan bata-bata yang coba aku dirikan membentuk singgasana
Tempat ku tahtakan kembang yag merekah dalam lubuk
Yang selalu aku agung-agungkan pada khalayak 
Selalu aku sebut dalam setiap akhir doa-doaku
Sampai tergenang telapakku dengan airmata

Sungguh, aku mencoba tak meminta apa-apa
Tapi apalah daya jika hatiku meronta meminta cinta yang sama besar
Aku meraung menangisi kau yang tak pasti
Terlanjur namamu yang tertancap dalam relung hati ini
Waktu merantai sepi tinggal lebih lama di dada ini

Dan skali lagi, apalah dayaku pada kisah ini
Aku masih menyimpan sisa sabarku untuk menunggu
Menunggu dia datang
Atau menunggu dia pergi
Apapun, semua aku ikhlaskan saja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar